Laporan Outdoor Learning Kelas X
Di Sangiran
Di Sangiran
Mata Pelajaran Sejarah
Disusun Oleh :
HIDAYATUN NI’MAH (14)
X-IPA-D
PEMERINTAH KABUPATEN TUBAN
DINAS
PENDIDIKAN PEMUDA DAN OLAHRAGA
SEKOLAH MENENGAH
ATAS NEGERI 2 TUBAN
Jalan Dr.Wahidin Sudiro Husodo 869 Tuban
Telp/Fax. (0356) 321094/325497
2016
Kata Pengantar
Puji syukur
kami panjatkan kehadirat Tuhan Yang Maha Esa yang telah melimpahkan
rahmat dan hidayah-Nya serta karunian-Nya sehingga kami dapat menyelesaikan Laporan
Outdoor Learning di Sangiran, Sragen, Jawa Tengah ini dengan baik tanpa ada
halangan.
Laporan Outdoor
Learning di Sangiran, Sragen, Jawa Tengah ini berisi tentang seluruh kegiatan
yang dilaksanakan siswa-siswi kelas X IPA dan IPS SMA Negeri 2 Tuban pada
tanggal 05 Januari 2016.
Terselesaikannya laporan ini tentu
tidak lepas dari bantuan banyak pihak. Oleh karena itu, kami mengucapkan terima
kasih kepada :
1. Yang terhormat
bapak Drs.Anis affandi selaku kepala sekolah SMAN 2 Tuban
2.
Yang terhormat bapak Drs.
Bambang Hery I selaku guru sejarah di
SMAN 2 Tuban
3.
Yang kami cintai teman teman
kelas X IPA D yang telah membantu penelitian ini
Laporan ini
disusun untuk melengkapi tugas mata pelajaran Ilmu Pengetahuan Sosial bidang
Sejarah. Selain itu, kami berharap semoga laporan ini dapat bermanfaat bagi
semua pihak yang membacanya dan menjadi referensi untuk menambah wawasan dan
ilmu pengetahuan.
Oleh karena
itu, kami mengharap segala kritik dan saran yang membangun dan dapat menjadikan
laporan ini jauh lebih baik lagi. Kami mohon maaf setulus-tulusnya jika
terdapat kesalahan maupun kekurangan dalam penyusunan laporan ini.
Tuban, 9 Januari 2016
Penyusun
Daftar Isi
HALAMAN JUDUL ...................................................................................... i
KATAPENGANTAR ..................................................................................... ii
DAFTAR ISI ................................................................................................. iii
BAB 1 PENDAHULUAN ............................................................................. 1
A.
Latar
Belakang .................................................................................. 1
B.
Rumusan
Masalah ............................................................................. 1
C.
Tujuan
............................................................................................... 1
D.
Manfaat
............................................................................................. 1
BAB 2 PEMBAHASAN ................................................................................ 3
A.
Mengenal Museum Sangiran ................................................................. 3
B.
Sejarah museum sangiran....................................................................... 4
C.
Koleksi
Museum Sangiran..................................................................... 7
BAB 3 METODE PENULISAN .................................................................... 10
A.
Tempat dan waktu................................................................................ 10
B.
Sumber data ........................................................................................ 10
C.
Teknik pengumpulan data .................................................................... 10
BAB 4 PENUTUP ........................................................................................ 11
A.
Simpulan
........................................................................................... 11
B.
Saran ................................................................................................. 12
C.
Pesan
................................................................................................. 12
D.
Kesan
................................................................................................ 12
LAMPIRAN .................................................................................................... 13
Bab 1
Pendahuluan
A.
Latar belakang
Kunjungan
museum ini diikuti oleh kelas X karena pada agenda
sekolah kunjungan museum dilaksanakan pada kelas X. Dipilihnya objek museum purbakala Sangiran karena untuk mengetahui lebih jelas gambaran evolusi nenek moyang peradaban manusia. Di sana kita semua dapat mengetahui secara gamblang bagaimana nenek moyang kita ber-evolusi,
di sana kita disuguhkan berbagai bukti sejarah.
Mulai dari tulang belulang atau fosil-fosil manusia,
tumbuhan ,dan hewan purba. Di museum kita juga disuguhkan
film mengenai penelitian dan penggalian fosil-fosil makhluk purbakala oleh berbagai peneliti di penjuru dunia.
B.
Rumusan Masalah
1.
Apa yang kalian ketahui
tentang observasi pada obyek observasi yang kalian kunjungi ?
C.
Tujuan penelitian
Tujuan dalam laporan ini adalah
sebagai berikut;
1. Untuk mengetahui sejarah situs sangiran
2. Untuk mengetahui proses terbentuknya sangiran.
3. Untuk mengetahui formasi lapisan sangiran
4. Untuk mengetahui pengungkap situs sejarah sangiran.
5. Untuk mengetahui koleksi – koleksi museum sangiran
6. Untuk mengetahui pengertian fosil,
manfaat dan syarat terbentuknya fosil.
7. Untuk mengetahui proses pembentukan fosil
8. Untuk mengetahui kehidupan di bumi
pada masa PraAksara
D.
Manfaat penelitian
Penulisan karya
tulis ini diharapkan dapat memberikan manfaat bagi :
a)
Penulis :
1.
Menambah wawasan siswa.
2.
Menggali potensi siswa untuk
dimanfaatkan sebagai sarana menambah nilai sosial dan rasa ingin tahu
perkembangan sejarah Indonesia.
3.
Untuk menumbuhkan rasa cinta tanah
air.
b)
Pembaca :
1.
Penulisan ini diharapkan dapat
membuka wawasan masyarakat tentang sejarah evolusi nenek moyang di
Indonesia.
2.
Dapat membuka kepedulian masyarakat
tentang museum sejarah di Indonesia.
Bab 2
Pembahasan
A.
Mengenal Museum
Sangiran
Situs Kepurbakalaan Sangiran adalah situs
arkeologi di Jawa, Indonesia. Tempat ini merupakan lokasi
penemuan beberapa fosil manusia purba, sehingga sangat penting dalam sejarah
perkembangan manusia dunia.
Area ini memiliki luas kurang lebih
48 km² dan sebagian besar berada dalam wilayah administrasi Kecamatan Kalijambe, Kabupaten Sragen, Jawa Tengah, 17 kilometer sebelah utara Kota Surakarta, di lembah Bengawan Solodan di kaki Gunung Lawu. Ada sebagian yang merupakan bagian
dari Kabupaten
Karanganyar (Kecamatan
Gondangrejo).
Pada tahun 1977 Sangiran ditetapkan oleh Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Indonesia sebagai cagar budayadan ada tahun 1996 situs ini terdaftar dalam Situs Warisan Dunia
UNESCO.
Di Museum Purbakala Sangiran, yang terletak di wilayah ini juga,
dipaparkan sejarah manusia purba sejak sekitar dua juta tahun yang lalu hingga
200.000 tahun yang lalu, yaitu dari kala Pliosen akhir hingga akhir Pleistosen
tengah. Di museum ini terdapat 13.086 koleksi fosil manusia purba dan merupakan
situs manusia purba berdiri tegak (hominid) yang terlengkap di Asia. Selain itu juga dapat dipamerkan fosil berbagai hewan
bertulang belakang, fosil binatang air, batuan, fosil tumbuhan laut, serta
alat-alat batu.
Kehadiran Sangiran merupakan contoh
gambaran kehidupan manusia masa lampau karena situs ini merupakan situs fosil
manusia purba paling lengkap di Jawa. Luasnya mencapai 56 km2 yang
meliputi tiga kecamatan di Kabupaten Sragen, yaitu Kecamatan Gemolong,
Kalijambe, dan Plupuh, serta satu kecamatan di Kabupaten Karanganyar, yaitu
Kecamatan Gondangrejo.
Sangiran merupakan situs terpenting
untuk perkembangan berbagai bidang ilmu pengetahuan terutama untuk penelitian
di bidang antropologi, arkeologi, biologi, paleoantropologi, geologi, dan tentu
saja untuk bidang kepariwisataan. Keberadaan Situs Sangiran sangat bermanfaat
untuk mempelajari kehidupan manusia prasejarah karena situs ini dilengkapi
dengan fosil manusia purba, hasil-hasil budaya manusia purba, fosil flora dan
fauna purba beserta gambaran stratigrafinya.
Sangiran dilewati oleh sungai yang
sangat indah, yaitu Kali Cemoro yang bermuara di Bengawan Solo. Daerah inilah
yang mengalami erosi tanah sehingga lapisan tanah yang terbentuk tampak jelas
berbeda antara lapisan tanah yang satu dengan lapisan tanah yang lain. Dalam
lapisan-lapisan tanah inilah yang hingga sekarang banyak ditemukan fosil-fosil
manusia maupun binatang purba.
Beberapa fosil manusia purba
disimpan di Museum Geologi, Bandung, dan Laboratorium Paleoantropologi,
Yogyakarta. Dilihat dari hasil temuannya, Situs Sangiran merupakan situs
prasejarah yang memiliki peran yang sangat penting dalam memahami proses
evolusi manusia dan merupakan situs purbakala yang paling lengkap di Asia
bahkan di dunia.
Berdasarkan hal tersebut, Situs
Sangiran ditetapkan sebagai Warisan Dunia Nomor 593 oleh Komite World
Heritage pada saat peringatan ke-20 tahun di Merida, Meksiko.
B.
Sejarah museum sangiran
Sangiran adalah sebuah situs
arkeologi (Situs Manusia Purba) di Jawa, Indonesia. Sangiran terletak di
sebelah utara Kota Solo dan berjarak sekitar 15 km (tepatnya di desa krikilan,
kec. Kalijambe, Kab.Sragen). Gapura Situs Sangiran berada di jalur jalan
raya Solo–Purwodadi dekat perbatasan antara Gemolong dan Kalioso (Kabupaten
Karanganyar). Gapura ini dapat dijadikan penanda untuk menuju Situs Sangiran, Desa
Krikilan. Jarak dari gapura situs Sangiran menuju Desa Krikilan ± 5 km.
Situs Sangiran memunyai luas sekitar
59, 2 km² (SK Mendikbud 070/1997) secara administratif termasuk kedalam dua
wilayah pemerintahan, yaitu: Kabupaten Sragen (Kecamatan Kalijambe, Kecamatan
Gemolong, dan Kecamatan Plupuh) dan Kabupaten Karanganyar (Kecamatan
Gondangrejo), Provinsi Jawa Tengah (Widianto & Simanjuntak, 1995). Pada
tahun 1977 Sangiran ditetapkan oleh Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Indonesia
sebagai cagar budaya. Oleh Karenanya Dalam sidangnya yang ke 20 Komisi Warisan
Budaya Dunia di Kota Marida, Mexico tanggal 5 Desember 1996, menetapkan
Sangiran sebagai salah satu Warisan Budaya Dunia “World Heritage List”
Nomor : 593. Dengan demikian pada tahun tersebut situs ini terdaftar
dalam Situs Warisan Dunia UNESCO.
Pada awalnya Sangiran adalah sebuah
kubah yang dinamakan Kubah Sangiran. Puncak kubah ini kemudian melalui
proses erosi sehingga membentuk depresi. Pada
depresi itulah dapat ditemukan lapisan tanah yang mengandung informasi tentang
kehidupan di masa lampau. Museum Sangiran beserta situs arkeologinya, selain
menjadi obyek wisata yang menarik juga merupakan arena penelitian tentang
kehidupan pra sejarah terpenting dan terlengkap di Asia, bahkan dunia.
Di museum dan situs Sangiran dapat
diperoleh informasi lengkap tentang pola kehidupan manusia purba di Jawa yang
menyumbang perkembangan ilmu pengetahuan seperti Antropologi, Arkeologi,
Geologi, Paleoanthropologi. Di lokasi situs Sangiran ini pula, untuk pertama
kalinya ditemukan fosil rahang bawah Pithecantropus erectus (salah satu spesies
dalam taxon Homo erectus) oleh arkeolog Jerman, Profesor Von Koenigswald. Di
area situs Sangiran ini pula jejak tinggalan berumur 2 juta tahun hingga
200.000 tahun masih dapat ditemukan hingga kini. Relatif utuh pula. Sehingga
para ahli dapat merangkai sebuah benang merah sebuah sejarah yang pernah
terjadi di Sangiran secara berurutan.
Bentang lahan situs tersebut
meliputi areal seluas ± 48 km2 yang berbentuk seolah seperti kubah (dome),
sehingga situs tersebut dinamakan dengan Sangiran Dome. Situs Sangiran
merupakan salah satu situs manusia purba yang sangat berperan penting dalam
perkembangan penelitian di bidang palaeoanthropology di Indonesia. Pada
tahun 1934 penelitian yang dilakukan oleh G.H.R. von Koenigswald yang menemukan
beberapa alat sepih yang terbuat dari batu kalsedon di atas bukit Ngebung, arah
Baratlaut Sangiran Dome.
Berdasarkan penelitian geologis,
situs Sangiran merupakan kawasan yang tersingkap lapisan tanahnya akibat proses
orogenesa (pengangkatan dan penurunan permukaan tanah) dan kekuatan getaran di
bawah permukaan bumi (endogen) maupun di atas permukaan bumi (eksogen).
Aliran Sungai Cemoro yang melintasi wilayah tersebut juga mengakibatkan
terkikisnya kubah Sangiran menjadi lembah yang besar yang dikelilingi oleh
tebing-tebing terjal dan pinggiran-pinggiran yang landai. Beberapa aktifitas
alam di atas mengakibatkan tersingkapnya lapisan tanah/formasi periode pleistocen
yang susunannya terbentuk pada tingkat-tingkat pleistocen bawah (lapisan
Pucangan), pleistocen tengah (lapisan Kabuh), dan pleistocen atas
(lapisan Notopuro). Fosil-fosil manusia purba yang ditemukan di laipsan-lapisan
tersebut berasosiasi dengan fosil-fosil fauna yang setara dengan lapisan Jetis,
lapisan Trinil, dan lapisan Ngandong.
Diperkirakan situs Sangiran pada
masa lampu merupakan kawasan subur tempat sumber makanan bagi ekosistem
kehidupan. Keberadaanya di wilayah katulistiwa, pada jaman fluktuasi jaman glassial-interglassial
menjadi tempat tujuan migrasi manusia purba untuk mendapatkan sumber
penghidupan. Dengan demikian kawasan sangiran pada kala pleistocen
menjadi tempat hunian dan ruang subsistensi bagi manusia pada masa itu.
Tempat-tempat terbuka seperti padang
rumput, semak belukar, hutan kecil dekat sungai atau danau menjadi pilihan
sebagai tempat hunian manusia pada kala pleistocen. Mereka membuat
pangkalan (station) dalam aktifitas perburuan untuk m,endapatkan sumber
kebutuhan hidupnya. Pilihan situs Sangiran dome sebagai pangkalan
aktifitas perburuan mengingatkan kita dengan living floor (lantai hidup)
atau old camp site di lembah Olduvai, Tanzania (Afrika). Indikasi suatu
situs sebagai tempat hunian dan ruang subsistensi adalah temuan fosil manusia
purba, fauna, dan artefak perkakas yang ditemukan saling berasosiasi.
Secara geo-stratigrafis, Situs
Sangiran yang posisinya berada pada depresi Solo di kaki Gunung Lawu ini dahulu
merupakan suatu kubah (dome) yang tererosi di bagian puncaknya sehingga
menyebabkan terjadinya reverse (kenampakan terbalik). Kondisi deformasi
geologis seperti ini kemudian semakin diperjelas oleh aliran Kali Brangkal,
Cemoro dan Pohjajar (anak-anak cabang Bengawan Solo) yang mengikis situs ini
mulai di bagian utara, tengah dan selatan. Akibat dari kikisan aliran sungai
tersebut maka menyebabkan lapisan-lapisan tanah tersingkap secara alamiah dan
memperlihatkan berbagai jejak fosil (manusia purba dan hewan vertebrata)
(Widianto & Simanjuntak 1995).
Sejarah atau riwayat penelitian di
Situs Sangiran bermula dari laporan GHR. Von Koenigswald yang menemukan
sejumlah alat serpih dari bahan batuan jaspis dan kalsedon di sekitar bukit
Ngebung pada tahun 1934 (Koenigswald, 1936). Temuan alat-alat serpih yang
kemudian terkenal dengan istilah ‘Sangiran Flakes-industry’ tersebut
diperkirakan berasal dari lapisan (seri) Kabuh Atas yang berusia Plestosen
Tengah. Namun hasil pertanggalan tersebut banyak dikritik oleh para ahli (de
Terra, 1943; Heekeren, 1972) karena temuan tersebut dihubungkan dengan konteks
Fauna Trinil yang tidak autochton (Bartstra dan Basoeki, 1984: 1989) atau bukan
dari hasil pengendapan primer (Bemellen, 1949).
Penelitian di situs ini menjadi
semakin menarik dan berkelanjutan ketika pada tahun 1936 ditemukan fragmen
fosil rahang bawah (mandibula) manusia purba Homo erectus yang kemudian disusul
oleh temuan fosil-fosil lainnya. Setelah masa pasca Koenigswald atau pada
sekitar tahun 1960-an, penelitian terhadap fosil-fosil hominid dan paleotologis
di situs ini kemudian diambil alih oleh para peneliti dari Indonesia (antara
lain T. Jacob dan S. Sartono) serta terus berkelanjutan sampai sekarang. Penelitian
yang sangat ‘spektakuler’ terjadi ketika Puslit Arkenas melakukan kerjasama
penelitian dengan Museum National d’Histoire Naturelle (MNHN), Perancis melalui
ekskavasi besar-besaran selama 5 tahap (tahun 1989 – 1993) di bukit Ngebung
yang menghasilkan sejumlah temuan secara ‘insitu’ dan pertanggalan absolut yang
sangat menarik. Penelitian Situs Sangiran semakin berkembang pesat dalam dekade
lima tahun belakangan ini setelah Balar Yogya ikut berpartisipasi langsung dan
melakukan program-program penelitian secara intensif dan terpadu (Widianto
1997; Jatmiko 2001).
C. Koleksi Museum Sangiran
1.
Fosil
manusia, antara lain Australopithecus africanus , Pithecanthropus
mojokertensis (Pithecantropus robustus ), Meganthropus
palaeojavanicus , Pithecanthropus erectus, Homo soloensis , Homo
neanderthal Eropa, Homo neanderthal Asia, dan Homo sapiens .
2.
Fosil binatang bertulang belakang,
antara lain Elephas namadicus (gajah), Stegodon trigonocephalus (gajah),
Mastodon sp (gajah), Bubalus palaeokarabau (kerbau), Felis
palaeojavanica (harimau), Sus sp (babi), Rhinocerus sondaicus (badak),
Bovidae (sapi, banteng), dan Cervus sp (rusa dan domba).
3.
Fosil binatang air, antara lain Crocodillus
sp (buaya), ikan dan kepiting, gigi ikan hiu, Hippopotamus sp (kuda
nil), Mollusca (kelas Pelecypoda dan Gastropoda ), Chelonia
sp (kura-kura), dan foraminifera .
4.
Batu-batuan , antara lain
Meteorit/Taktit, Kalesdon, Diatome, Agate, Ametis
5.
Alat-alat batu, antara lain serpih
dan bilah, serut dan gurdi, kapak persegi, bola batu dan kapak perimbas-penetak
6.
Koleksi
lainnya
a)
Fosil kayu yang terdiri dari:
1.
Fosil kayu Temuan dari Dukuh Jambu, Desa Dayu, Kecamatan Gondangrejo Kabupaten
Karanganyar. Ditemukan pada tahun 1995 pada lapisan tanah lempung warna abu-abu
ditemukan pada formasi pucangan
2.
Fosil batang pohon Temuan dari Desa krikilan , Kecamatan Kalijambe, Kabupaten Sragen. Fosil
ini ditemukan pada tahun 1977 pada lapisan tanah lempung Warna abu-abu dari
endapan ditemukan pada Formasi pucangan
b)
Tulang hasta (Ulna) Stegodon Trigonocephalus Ditemukan di kawasan cagar sangiran pada tanggal 23 november 1975 di tanah
lapisan lempung warna abu –abu Formasi kabuh bawah.
c)
Tulang paha
Ditemukan
dari Desa Ngebung, Kecamatan kalijambe, Kabupaten Sragen pada tanggal 4
Februari 1989 pada lapisan tanah lempung warna abu – abu dari endapan ditemukan
pada formasi pucangan atas.
d)
Tengkorak kerbau
Ditemukan
oleh Tardi Pada tanggal 20 November 1992 di Dukuh Tanjung, Desa Dayu Kecamatan
Gondangrejo, Kabupaten Karanganyar pada lapisan tanah Warna coklat
kekuning-kunginan yang bercampur pasir ditemukan formasi kabuh berdasarkan
penanggalan geologi berumur 700.000-500 tahun
e)
Gigi Elephas Namadicus
Ditemukan di
situs cagar budaya sangiran Pada tanggal 12 Desember 1975, Pada lapisan tanah
pasir bercampur kerikil berwarna cokelat ditemukan pada Formasi kabuh
f)
Fragmen gajah purba
Hidup di daerah cagar budaya
sangiran. Jenisnya adalah:
·
Mastodon
·
Stegodon
·
Elephas
g)
Tulang rusuk (Casta) Stegodon
Trigonocephalus
Ditemukan
oleh Supardi pada tanggal 3 Desember 1991 di Dukuh Bukuran, Desa Bukuran
Kecamatan kalijambe Kabupaten Sragen pada lapisan lempung warna abu – abu dari
endapan pucangan atas.
h)
Ruas tulang belakang (Vertebrae)
Ditemukan di
situs cagar budaya sangiran pada tanggal 15 Desember 1975 di lapisan tanah pasir
berwarna abu – abu pada formasi kabuh bawah.
i)
Tulang jari (Phalanx)
Ditemukan di
situs sangiran pada tanggal 28 oktober 1975 pada lapisan tanah pasir kasar
warna cokelat kekuning-kuningan pada formasi kabuh.
j)
Rahang atas Elephas Namadicus
Rahang ini
dilengkapi sebagian gading ditemukan oleh Atmo di Dukuh Ngrejo, Desa
Samomorubuh Kecamatan Plupuh Kabupaten Sragen pada tanggal 24 April 1980 pada
lapisan Grenz bank antara formasi pucangan dan kabuh.
k)
Tulang kaki depan bagian atas
(Humerus)
Bagian fosil
ditemukan oleh Warsito Desa Krikilan, Kecamatan Kalijambe, Kabupaten Sragen
pada tanggal 28 Desember 1998 pada lapisan tanah lempung warna abu – abu dari
formasi pucangan atas kala pleistosen bawah
l)
Tulang kering
Ditemukan
oleh Warsito di Dukuh Bubak Desa Ngebung, Kecamatan Kalijambe, Kabupaten Sragen
pada tanggal 4 januari 1993 lapisan tanah lempung warna abu – abu dari formasi
pucangan atas.
m)
Fosil Molusca
a.
Klas Pelecypoda
b.
Klas Gastropoda
n)
Binatang air
a.
Tengkorak buaya (Crocodilus Sp.)
ditemukan pada tanggal 17 Desember 1994 oleh Sunardi di Dukuh Blimbing, Desa
Ngebung, Kecamatan kalijambe kabupaten Sragen pada formasi pucangan
b.
Kura – kura (Chlonia Sp.) ditemukan
pada tanggal 1 Februari 1990 oleh hari Purnomo Dukuh Pablengan, Desa krikilan ,
Kecamatan Kalijambe, kabupaten Sragen pada Formasi pucangan
c.
Ruas tulang belakang ikan ditemukan
pada tanggal 20 November 1975 oleh Suwarno di Desa Bukuran, Kecamatan
Kalijambe, Kabupaten Sragen pada formasi pucangan
Bab 3
Metode Penelitian
A. Tempat dan waktu
Tempat : Museum purbakala sangiran
Waktu : Tanggal 05 Januari 2016
B. Sumber data
Observasi
langsung di sangiran
C. Teknik pengumpulan data
Observasi Kualitatif. Yaitu metode
penelitian yang lebih difokuskan pada pemahaman fenomena-fenomena sosial dari
perspektif partisipan dengan lebih menitikberatkan pada gambaran yang lengkap
daripada merinci menjadi variabel yang saling terkait.penelitian kualitatif
bertujuan memperoleh pemahaman makna verstehen, mengembangkan teori dan
menggambarkan realita yang kompleks.
Bab 4
Penutup
A. Simpulan
1.
Sangiran adalah sebuah situs
arkeologi di Jawa, Indonesia.Sangiran memiliki area sekitar 48 km². Secara
fisiografis sangiran terletak pada zona Central Depression, yaitu berupa
dataran rendah yang terletak antara gunung api aktif, Merapi dan Merbabu di sebelah
barat serta Lawu di sebelah timur.
2.
Ditemukan lebih dari 13.685 fosil
2.931 fosil ada di Museum, sisanya disimpan di gudang penyimpanan. Pada tahun
1977 Sangiran ditetapkan oleh Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Indonesia
sebagai cagar budaya, berdasarkan Surat Keputusan Menteri Pendidikan dan
Kebudayaan No.070/0/1977, tanggal 5 Maret 1977. Selanjutnya keputusan itu
dikuatkan oleh Komite World Heritage UNESCO pada peringatannya yang ke-20 di
Merida, Mexico yang menetapkan kawasan Sangiran sebagai kawasan World Heritage
(warisan dunia) No. 593.
3.
Sejarah Museum Sangiran bermula dari
kegiatan penelitian yang dilakukan oleh Von Koeningswald sekitar tahun 1930-an.
Di dalam kegiatannya Von Koeningswald dibantu oleh Toto Marsono, Kepala Desa
Krikilan pada masa itu.Setiap hari Toto Marsono atas perintah Von Koeningswald
mengerahkan penduduk Sangiran untuk mencari “balung buto” (Bahasa Jawa = tulang
raksasa).Demikian penduduk Sangiran mengistilahkan temuan tulang-tulang
berukuran besar yang telah membatu yang berserakan di sekitar ladang
mereka.Balung buto tersebut adalah fosil yaitu sisa-sisa organisme atau jasad
hidup purba yang terawetkan di dalam bumi.
4.
Berdasarkan studi pustaka yang telah
dilakukan, formasi penyusun daerah sangiran merupakan urutan dari pengendapan syn-orogenic danpost-orogenic (proses
pengendapan bahan rombakan yang terjadi pada dan setelah terangkatnya
perbukitan Kendeng yang berada disebelah utara Sangiran), kecuali formasi
tertua. Urutan formasi yang
menyusun daerah Sangiran adalah Formasi Kalibeng, Pucangan, Kabuh dan Notopuro.
B.
Saran
a.
Sebaiknya tempat-tempat wisata tersebut lebih dikembangkan
sarana dan prasarananya. Agar lebih menimbulkan daya tarik bagi para
pengunjung.
b.
Memperbanyak tempat-tempat wisata yang dapat dikunjungi.
c.
Kunjungan ke tempat tempat bersejarah harus sering sering
dilakukan, agar peserta didik dapat memahami sejarah sejarah yang pernah
terjadi dibumi ini.
C.
Pesan
Museum Sangiran merupakan salah satu museum purba kita
miliki, maka hendaknya kita menjaga. Zaman Praaksara tidak akan bisa diulang
kembali, namun di dalam Museum Sangiran terdapat bukti bukti Zaman Praaksara.
Maka, kita sebagai penerus bangsa harusnya menjaga dan mampu merawat
peninggalan-peninggalan tersebut.
D.
Kesan
Mengetahui kebudayaan zaman dahulu yang sangat beragam dan
menarik untuk diketahui lebih dalam. Dan mengetahui proses terbentuknya bumi
Lampiran